Kontroversi Soekarno-Hatta

Tanggal: . Kategori: Kebudayaan & Sejarah

13464149762015148696Ada yang istimewa pada hari pahlawan tahun ini, dua proklamator, Soekarno dan Muhammad Hatta, ditetapkan menjadi pahlawan nasional. Tak ada perdebatan krusial dalam proses  pengusulan mereka sebagai pahlawan nasional. Cuma ada sejumlah pertanyaan yang membutuhkan jawaban agar tidak menjadi teka-teki berkepanjangan.

Pertanyaan-pertanyaan itu adalah: pertama, mengapa mereka baru ditetapkan sekarang, bukan ditetapkan pada saat Presiden Megawati Soekarnoputeri berkuasa? Kedua, apa pentingnya dua founding fathers ini diangkat menjadi pahlawan nasional, bukankah mereka sudah cukup ditetapkan sebagai pahlawan kemerdekaan, atau sebagai proklamator? Ketiga, apa konsekuensinya jika seseorang telah ditetapkan sebagai pahlawan nasional?

Untuk pertanyaan pertama saya kira jawabannya jelas akan ada nada sumir jika Megawati menetapkan ayahnya sendiri sebagai pahlawan nasional. Bahwa Soekarno (juga Hatta) layak dijadikan pahlawan nasional adalah benar, namun Megawati tak mau membuat publik salah paham sehingga akan mendegradasi nilai kepahlawanan keduanya.

Kedua, dalam stratifikasi gelar kepahlawanan, pahlawan nasional adalah puncaknya. Di bawah gelar ini ada sejumlah gelar lain yang spesifik seperti pahlawan kemerdekaan, pahlawan revolusi, pahlawan koperasi, dan termasuk pahlawan reformasi untuk sejumlah mahasiswa yang gugur pada 1998.  Bukannya hendak membeda-bedakan atau mendiskriminasi, tapi rasanya kurang sepadan jika Soekarno-Hatta disejajarkan dengan mereka.

Dan ketiga, konsekuensi dari pemberian gelar pahlawan nasional adalah perlunya “pemutihan” atas dosa-dosa yang mungkin dilakukan, baik oleh Soekarno maupun Hatta, terhadap republik. Kita tahu, di antara sejumlah founding fathers, Soekarno termasuk yang paling kontroversial karena langkah-langkahnya yang dianggap melenceng dari demokrasiyang dibangunnya sendiri. Pertentangannya dengan Hatta juga terekam dengan baik dalam sejarah.

Pada saat Soekarno mulai menyuarakan perlunya menghapus partai-partai untuk kepentingan persatuan, Hatta menentang keras. Dalam pandangannya, yang diperlukan bukanlah persatuan organisasi sebagaimana yang dikehendaki Soekarno, melainkan persatuan seluruh kaum nasionalis dalam tekad memaksakan kemerdekaan dari Belanda. Persatuan model Soekarno diplesetkan Hatta menjadi “per-sate-an”, yakni daging kerbau, sapi, kambing disate menjadi satu. “Persatuan segala golongan ini sama artinya dengan mengorbankan asas masing-masing,” demikian tulis Hatta dalam Daulat Ra’yat (1932).

Pertentangan keduanya mulai memuncak pada saat Soekarno sebagai Presiden RI menolak ikut menandatangani Maklumat X, yakni Dekrit yang ditandatangani Hatta pada 3 November 1945 yang meletakkan dasar bagi terbangunnya sistem multipartai dan demokrasi parlementer. Meskipun tidak disukai Soekarno, Maklumat ini tetap dijalankan hingga digelar Pemilu 1955. Nah, ketika partai-partai mulai bertikai, Soekarno mengritik keras Hatta.”Terima kasih Tuhan, bukan Soekarno yang menandatangani Dekrit ini.”

Pada tahun 1956, Soekarno mulai mencanangkan Demokrasi Terpimpin untuk mengubur partai-partai. Merasa sudah tidak mungkin lagi bekerjasama dengan Soekarno, pada 31 Desember 1956, Hatta resmi mengundurkan diri dari jabatan Wakil Presiden. Maka dwitunggal pun menjadi ”dwitanggal”. Dan pada 5 Juli 1959, Soekarno menandatangani Dekrit Presiden yang isinya membubarkan Konstituante (DPR Sementara) dan kembali ke UUD 1945. Demokrasi terpimpin resmi dimulai.

Selain dianggap mengubur demokrasi, kontroversi lain dari Soekarno adalah kecenderungannya membela PKI.  Padahal pada 30 September 1965, PKI dianggap bertanggungjawab dengan penculikan dan pembunuhan tujuh jenderal Angkatan Darat. Pada 14 Oktober 1965, ketika Soeharto dilantik sebagai Menteri Panglima Angkatan Darat dan membekukan kegiatan PKI dan ormas-ormasnya, Soekarno menolak.

Dalam buku “Penyambung Lidah Rakyat” (Cindy Adams, 1966), Soekarno mengakui dengan jelas kontroversi tentang dirinya. “Tidak seorang pun dalam peradaban modern ini yang menimbulkan demikian  banyak perasaan pro-kontra seperti Soekarno. Aku dikutuk seperti bandit dan dipuja bagai dewa,” katanya.

Tapi Soekarno juga mengungkapkan dengan penuh keyakinan bahwa sejarahlah yang akan membersihkan namanya. Dan, dengan ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional, ungkapan Soekarno ini mendapatkan pembenaran.

Facebook JG

Twitter JG

GeovanieJeffrie "The child is father of the man." -William Wordsworth
7hreplyretweetfavorite
GeovanieJeffrie "The sun will shine into our yard too." -Proverb
15hreplyretweetfavorite

Built with HTML5 and CSS3
Copyright © 2013 Jeffriegeovanie.com