Selamat, Presiden Obama! PDF Print E-mail
Written by Jeffrie Geovanie   
Sunday, 02 November 2008

SELASA besok, 4 November 2008, masyarakat Amerika menorehkan momentum politik yang bersejarah melalui Pemilihan Umum (Pemilu). Untuk pertama kalinya dalam sejarah politik Amerika, mereka memilih kandidat Presiden berkulit hitam, keturunan Afrika-Amerika, dan sempat menghabiskan masa kecilnya di Jakarta. Sang kandidat itu, demikian kita diberitahu melalui memoarnya, menyebut dirinya sebagai “a little Jakarta street kid.” Dan nama sang kandidat itu adalah Barack Obama, yang menjadi bintang cemerlang dalam politik Amerika dan menjadi harapan dunia. Jika tak ada tsunami politik, kemenangan Obama hampir dapat diprediksikan secara meyakinkan.

 

Indikasi kemenangan politik itu tentu saja dapat dibaca melalui jajak pendapat/survei. Laporan terkini akhir pekan lalu disiarkan oleh Yahoo.com dimana Obama diprediksikan meraih kemenangan secara mayoritas. Dengan angka 50.4%, Obama diprediksikan meraih sekitar 333 suara elektoral dibandingkan lawan politknya dari Partai Republik John McCain yang hanya diprediksikan meraih 43.6%, atau sekitar 181 suara elektoral. Dengan angka 333, Obama jauh melampaui batas minimal suara untuk menang, 270 suara elektoral.

Prediksi CNN pun tak jauh berbeda, dengan memberi kemenangan pada Obama sekitar 291 suara elektoral ketimbang McCain yang hanya meraih 160. Melalui exit polls, pada hari Selasa sore, perkiraan kemenangan Obama dapat diketahui publik Amerika dan dunia. Sekali lagi, jika tak ada tsunami politik dan tanpa bermaksud sedikit pun mendahului keputusan Tuhan Yang Maha Kuasa, maka Obama hampir dipastikan menjadi Presiden Amerika. Dengan terpilihnya Obama, Amerika memulai fase baru dalam sejarah. Tidak saja karena Obama berketurunan Afrika-Amerika, tapi juga karena Obama terbit sebagai “the rising star” di tengah wajah Amerika yang begitu terpuruk dengan reputasi yang tak kalah buruknya di mata dunia.

Wajah ekonomi Amerika yang sedang terpuruk disebabkan oleh karena Presiden Bush lebih terkonsentrasi pada perang melawan terorisme, perang terhadap Irak yang tak ada kaitannya dengan September 11, dan akibatnya, kondisi ekonomi domestik Amerika menjadi tak terurus sama sekali. “Ketika kampanye pemilu mulai dua tahun lalu,” kata kolumnis terkenal the New York Times di Amerika, Thomas L. Friedman, “Isu besarnya adalah bagaimana dan untuk berapa lama kita melanjutkan nation-building di Irak.” Namun, ketika kampanye hampir berakhir, kata Friedman, “Isu terbesarnya adalah bagaimana dan pada bentuk pengorbanan apa yang dapat kita perbuat untuk nation-building di Amerika.”

Itulah tantangan pertama dan utama Presiden terpilih Barack Obama, yang populer di awal kampanye dengan semangat anti-perang, tapi menjelang kampanye berakhir, justru lebih terkenal sebagai kandidat presiden yang dipaksa harus berurusan dengan perbaikan ekonomi domestik dan proyek ‘nation-building’ di negerinya sendiri. Pada masa-masa awal pemerintahannya, Presiden Obama harus segera menarik pasukan Amerika dari Irak.

Dan untuk itu, dia akan menuai kredit tepuk tangan tidak saja dari warganya sendiri di Amerika, tapi juga dari seluruh dunia.  Tentu, Obama tidak haus tepuk tangan dan pujian. Tepuk tangan itu sekadar untuk merefleksikan perasaan gembira warga Amerika dan dunia yang melihat langkah politik Presiden Obama di awal pemerintahannya dengan menarik pasukan Amerika dari Irak. Saat itu pula, kita berharap, tidak ada lagi perang. Dunia butuh kedamaian, yang hanya terwujud dengan dialog tanpa perang. Ada makna simbolik dari penarikan pasukan perang dari Irak.

Setidaknya, dunia mulai merauh harapan baru pada Presiden Obama dan sekaligus menandai fase politik baru restorasi kepemimpinan moral-politik Amerika di dunia. Cara pandang dunia juga pelan-pelan berubah, dengan melihatnya secara lebih simpatik dan penuh persahabatan.  Pada saat yang bersamaan, Presiden Obama harus segera berbenah diri dan konsentrasi pada proyek ‘nation-building’ di Amerika. Nasion dan bangsa Amerika sedang di jurang krisis, yang harus segera dibenahi oleh Presiden Obama.

Warisan kepemimpinan Bush yang sedemikian parah, mulai dari krisis keuangan, meluasnya pengangguran, bertambahnya angka kemiskinan, rendahnya akses pada pendidikan, tak terjangkaunya asuransi kesehatan, sampai masalah kredit perumahan, membuat Presiden terpilih Obama dihadapkan pada situasi sulit.  Di tengah harapan akan terpenuhinya janji perubahan yang sedemikian tinggi di kalangan pemilih, Presiden Obama dihadapkan pada sedemikian banyak warisan masalah yang begitu parah. Dengan minimnya pengalaman di bidang pemerintahan, Presiden Obama pasti butuh waktu yang tidak pendek untuk menyelesaikan warisan masalah yang ditinggalkan Bush.

Tapi, jika kemenangan pemilu pada Selasa besok diraih dengan kemenangan mayoritas, maka Obama punya legitimasi dan basis dukungan yang lebih kuat dan meyakinkan untuk bersama-sama mengatasi krisis. Akhirnya, kita sampaikan ucapan selamat pada Presiden Obama! Semoga headlines media massa di mana pun akan dipenuhi dengan berita kemenangan Obama. Tapi, jika ternyata kalah, hampir tamatlah riwayat Amerika, dengan dipimpin oleh John McCain yang hanya ekstensi empat tahun dari politik Bush.

 Dimuat oleh : Padang Ekspres Tanggal 3 November 2008

 
< Prev   Next >
Advertisement

Comment