Spekulasi Politik Pemilu Amerika PDF Print E-mail
Written by Jeffrie Geovanie   
Sunday, 26 October 2008

Spekulasi menjelang Pemilu Amerika 4 November ini berkembang sedemikian pesat dan kadang liar. Spekulasi umum adalah kontes antara Barack Obama dan John McCain sebenarnya sudah usai. Karena tak satupun menominasikan McCain, maka Obama dispekulasikan hampir menang mutlak dan meraih suara elektoral mayoritas. Namun, di balik spekulasi ini, resiko dan konsekuensi politik terjadi. 

Pertama, kubu Obama menjadi terlampaui percaya diri (self-confidence) untuk menang Pemilu. Akibatnya, suporter bisa jadi agak malas untuk datang ke tempat pemungutan suara karena dipicu adanya spekulasi kemenangan politik Obama secara mayoritas. Diprediksikan, Obama akan meraih sekitar 344 suara electoral, jauh melebihi angka 270 yang hanya dibutuhkan untuk menang.

Atas dasar itu pula, Obama belakangan mulai menyadari dan menegaskan bahwa Pemilu belum usai, bahkan baru dimulai 4 November, dan kemenangan politik belum diraih secara resmi (official).  Ini pernyataan politik yang sangat penting karena untuk mengantisipasi animo pemilih agar tetap datang ke tempat pemungutan suara dan memberikan suaranya ke Obama. Namun, di sisi lain, McCain ingin meraih keuntungan dari rasa percaya diri para pendukung Obama, yang sudah terlampau percaya diri untuk optimis menang.

Dengan diramalkan kalah, misalnya, suporter McCain justru semakin mulai merapatkan barisan untuk bersatu padu dan sekuat tenaga untuk menang. Artinya, ada kesadaran yang mempersatukan kekuatan politik mereka untuk bangkit bersama melawan musuh baru yang diciptakan bersama (common enemy), yakni kubu Obama. Dalam kerangka memenangkan pencitraan Obama sebagai musuh bersama itu, maka kubu McCain memberikan pelabelan politik baru kepada Obama sebagai “sosialis,” “terlampau liberal,” dan stereotipe-stereotipe negatif lain yang selama ini menjadi momok warga Amerika.

Umumnya, warga Amerika alergi terhadap label sosialis karena bertentangan dengan spirit dan nilai utama Amerika yang menekankan individualisme. Juga, label “liberal” pada Obama juga dapat merusak citranya karena warga Amerika umumnya ‘puritan’ pada agama. Di Amerika, liberal punya konotasi buruk dan negatif, dengan misalnya kurang taat pada ajaran agama dan Gereja, serta dipersepsikan mendukung nikah sesama jenis. Pencitraan Obama sebagai kandidat yang terlampau liberal sebenarnya ingin mempersempit baju politik dan basis dukungan Obama agar semakin tersudut menjelang Pemilu 4 November.

Di sisi lain, McCain sendiri punya masalah serius dalam soal basis dukungan politik dari kaum konservatif Amerika. Kaum Kristen evangelis Amerika, yang selama ini seringkali menjadi penentu kemenangan kaum Republik, tidak begitu sepenuhnya mendukung McCain. Sarah Palin pun justru semakin tidak disukai, bukan saja di kalangan pendukung Republik, melainkan juga di kalangan kaum perempuan, suatu segmen politik yang selama ini diharapkan dapat menambah suara signifikan pada McCain.

Dalam perkembangan politik akhir-akhir ini, hampir semua analis dan pengamat politik Amerika sepakat bahwa McCain keliru dalam memilih Sarah Palin sebagai kandidat wapresnya. Jika selama ini posisi kandidat wapres diharapkan dapat ikut memberikan tambahan suara dalam Pemilu, faktor Sarah Palin justru sebaliknya. Bukan saja Palin gagal dalam mengemban misi itu, tapi juga tidak memberikan kontribusi apapun dalam mempetahankan popularitas McCain.

Analisis politik yang paling ekstrim justru melihat faktor Sarah Palin sebagai orang yang bertanggung jawab dalam menurunkan popularitas McCain. Pemilih Republik dan terutama kelompok independen khawatir bahwa, jika misalnya McCain menang dalam Pemilu dan tidak berusia panjang karena umurnya sudah di atas 70-an tahun, mereka khawatir dan bahkan tidak percaya pada kemampuan Palin untuk menjadi Presiden menggantikan McCain.

Karena itulah, tidak heran jika akhir-akhir ini, kita seringkali menyaksikan orang-orang Independen dan Republik sekalipun mulai berbalik memberikan endorsemen politik ke Obama.  Di antara yang terakhir, tentu saja, republiken Collin Powel yang simpatik dan terpesona dengan Obama tanpa menghilangkan rasa respek pada koleganya McCain di Republik. Karena itulah, sejak sebulan terakhir, analisis politik saya lebih kuat pada kemenangan mayoritas Obama dalam Pemilu  4 Nopember nanti.

Momentum politik berada pada Obama, entah karena dipicu visi cerdasnya, mesin politik kampanyenya, uangnya, atau entah karena dipicu krisis keuangan dan ekonomi  Amerika yang semakin tidak menguntungkan McCain dan Partai Republik secara umum. Warga Amerika benar-benar frustasi dan marah atas krisis dan ketidakpastian ekonominya. Obama, di mata mereka, jauh lebih bisa dipercaya ketimbang McCain dalam hal mengatasi krisis yang konon sangat serius dan kritis dalam sejarah ekonomi Amerika.

Dimuat oleh : Padang Ekspres Tanggal 27 Oktober 2008

 
< Prev   Next >
Advertisement

Comment