Presiden Barack Obama PDF Print E-mail
Written by Jeffrie Geovanie   
Sunday, 19 October 2008
Jika tidak terjadi malapetaka politik, kandidat Presiden Partai Demokrat Barack Obama segera menjadi Presiden pertama Amerika berkulit hitam. Semua survei mengunggulkannya dengan angka mendekati 50%, rekor bersejarah dalam survei selama ini. Sebaliknya, tak satu pun survei nasional memprediksikan lawan politiknya, John McCain, sebagai pemenang dalam Pemilu 4 November nanti. Lebih dari itu, analisis politik Amerika yang disiarkan luas bahkan lebih radikal lagi: bahwa kontes politik antara Obama dan McCain sudah usai (the contest is over). Pemilu tak lebih dari sekadar ritual politik untuk mewisuda Obama menjadi Presiden Amerika.

Sungguh, Obama lebih dari sekadar pantas untuk menang dalam Pemilu 4 November. Janji perubahan dan harapan menjadi mimpi baru publik Amerika di tengah krisis ekonomi. Obama hadir di tengah masyarakat Amerika yang sedang frustasi akibat kegagalan politik Bush. Setahun sebelum Bush dilantik, pemerintah Amerika mengalami surplus ekonomi sebesar 237 miliar dolar, jumlah fantastis yang diraih Bill Clinton. Namun, setelah Bush naik dan memimpin selama dua periode (2000-2004 dan 2004-2008), pemerintah justru mengalami defisit sekitar 455 miliar dolar pada tahun 2008 ini.

Jalan politik Partai Republik sebagai partai dengan sistem pemerintahan yang terbatas (limited government) telah kehilangan jalannya. Bush dan Partai Republik faktanya berada di simpang jalan, semakin berjalan menuju puncak kegagalan politik yang sempurna. Karena itulah, posisi politik McCain sangatlah tidak diuntungkan. Sekiranya Bush berhasil, McCain pasti mewarisi citra politik yang sukses dan hampir dipastikan menang dalam Pemilu. Jika kondisi normal sekali pun, McCain pun berpeluang menang.

Namun, kenyataannya tidak demikian. Bush gagal. Dan di akhir kepemimpinan politiknya, Amerika diguncang krisis keuangan yang dahsyat. Menahkodai pemerintahan tanpa dukungan parlemen benar-benar semakin membuat lumpuh Partai Republik, yang sudah kehilangan kontrol atas parlemen dan senat.  Situasi itu pula yang membuat posisi McCain tidak diuntungkan. Ia harus turut serta menanggung getah politik buruk yang diwariskan oleh Bush.

Sulit dipungkiri, publik Amerika percaya bahwa McCain adalah bagian dari ”aliran politik” Bush dan pencalonan dirinya dipandang sebagai pemberian legitimasi empat tahun lagi dari delapan tahun kepempimpinan politik Bush yang sudah terbukti gagal. Meskipun dalam debat terakhir McCain secara tegas menyatakan kepada Obama bahwa dirinya bukan presiden Bush, tetap saja penegasan politik itu tidak punya dampak politik yang signifikan. McCain tetap saja tampil sebagai pendukung Bush dalam kebijakan ekonomi dan politik.

Semula, McCain kritis pada kebijakan potong pajak oleh Bush, dan menilainya sebagai kebijakan yang tidak bertanggung jawab secara fiskal. Tapi, McCain akhirnya mendukung kebijakan itu. Janjinya untuk menjaga anggaran yang seimbang justru paradoks dengan rencana pemotongan pajak yang justru akan menambah hutang 4,2 triliun dolar dalam sepuluh tahun. Dalam politik, McCain sulit terpisah dari doktrin perang Bush. Ketika publik muak dengan perang dan memintanya untuk segera diakhiri, McCain malah sempat berpikir seratus tahun lagi perang di Irak.

Karena itulah, ketika Bush gagal dan popularitasnya turun di titik terendah dalam sejarah politik Amerika, sulit sekali buat McCain untuk menaikkan popularitasnya yang semakin tertinggal jauh dari Obama. Dan semakin sukses usaha Obama untuk mensejajarkan Bush-McCain ibarat dua sisi dari mata uang koin yang sama, maka semakin mudah pula jalan politiknya ke Gedung Putih.

Dimuat oleh : Padang Ekspres Tanggal 20 Oktober 2008

 
< Prev   Next >
Advertisement

Comment