Fondasi Politik Rizal PDF Print E-mail
Written by Jeffrie Geovanie   
Sunday, 23 November 2008

”Saya sudah mencoba dan ternyata memang belum bisa.” Inilah ungkapan Rizal Mallarangeng dalam risalah yang bertajuk “Farewell, My Friends” yang menandakan pengunduran dirinya dari panggung pencalonan presiden. Dengan demikian, tidak akan ada lagi tayangan iklan atau kegiatan-kegiatan lain yang memproses Rizal sebagai calon presiden.

 

Tapi, mundurnya Rizal dari panggung Pilpres 2009, bukan berarti ia telah memadamkan hasratnya untuk menjadi presiden. Ia adalah sosok generasi baru Indonesia yang bertalenta, cerdas, dan punya relasi yang luas, karena itu seperti yang ia katakan, mundur 2009, untuk menyiapkan 2014. Selamat, Rizal.Sebenarnya dunia politik adalah ramah yang amat lentur, fleksibel. Perubahan-perubahan dal

am politik bisa terjadi secara instan, bahkan kadang tiba-tiba. Meskipun demikian, tetap ada hal yang harus diikuti, yakni aturan main yang telah menjadi kesepakatan bersama. Dalam konteks Indonesia, aturan main itu berupa paket undang-undang politik yang memuat antara lain persyaratan-persyaratan formal seseorang untuk menjadi capres seperti adanya keharusan diajukan oleh satu atau gabungan partai politik.

Kalau memang demikian, menurut saya, berkarir di partai politik mungkin akan menjadi pilihan yang tepat bagi siapa pun yang ingin menjadi presiden, setidaknya untuk saat ini. Karena partai adalah pilar utama demokrasi, terutama dalam proses partisipasi, sosialisasi, dan rekrutmen politik. Tanpa partai, mustahil kita bisa membangun demokrasi yang baik dan berkesinambungan.

Apakah Rizal akan melupakan mimpi-mimpinya untuk menjadi Presiden Republik Indonesia? Saya yakin tidak, karena sepanjang yang saya kenal, Rizal bukanlah sosok yang pantang menyerah, kalau pun mundur saat ini, hanya untuk menyiapkan lebih cermat dan dengan waktu yang cukup panjang menuju pilpres 2014. Rizal tampaknya menyadari bahwa jalan menuju istana negara masih panjang, berliku, dan membutuhkan lebih banyak lagi waktu untuk menapakinya. Sikap Rizal ini menunjukkan bahwa ia adalah sosok yang mengedepankan akal sehat, yang memahami format pencalonan yang telah disepakati bahwa seorang capres harus minimum didukung 25% suara partai atau gabungan partai.

Dengan format itu maka dapat dipastikan pilpres 2009 hanya akan diikuti sebanyak-banyaknya oleh tiga (pasang) kandidat, tentu dengan catatan, bagi figur yang tidak pernah berkarir di partai, hampir mustahil untuk mendapatkan tiket pencalonan semacam itu. Kalau pun Rizal berupaya ke arah itu, waktu yang tersisa sampai pertengahan tahun depan rasanya tidak memadai. Rasanya tidak mungkin Rizal mampu meningkatkan elektibilitasnya sampai titik yang memadai sekaligus mendapatkan tiket pencalonan dari partai.

Kalau ada yang mengatakan bahwa apa yang telah dilakukan Rizal adalah sia-sia, saya percaya orang yang mengatakan itu tidak pernah mencapai sesuatu yang berarti bagi hidupnya apalagi bagi hidup dan kehidupan banyak orang. Mengapa demikian, karena masa tiga bulan terakhir ini Rizal telah membangun fondasi politik dirinya untuk masa mendatang, selain membuka ruang dan memberikan inspirasi bagi banyak pihak terutama generasi muda untuk selalu mendasari setiap tindakan dalam kehidupannya berlandaskan akal sehat.

Selamat bung Rizal Mallarangeng, kami tunggu kejutan berikutnya. Sebagai seorang sahabat saya tidak segan-segan untuk memberikan masukan-masukan yang terbaik, dan masukan saya untuk saat ini, sebaiknya anda mulai berkarir di partai, dan saya kira partai Golkar adalah pilihan terbaik untuk itu.
 
dimuat oleh: Padang Ekspres 24 November 2008 
 
< Prev   Next >
Advertisement

Comment